Kalau mendengar kata BPJS, yang langsung terbayang biasanya kartu berobat, antrean rumah sakit, iuran bulanan, atau potongan gaji. Wajar, karena itu memang bagian BPJS yang paling sering kita temui. Tapi kalau dilihat dari sisi keuangan keluarga, sebenarnya ada fungsi lain yang jauh lebih menarik. BPJS bisa menjadi salah satu benteng ketika hidup tiba-tiba tidak berjalan sesuai rencana.
Sakit berat, kecelakaan kerja, kehilangan pekerjaan, sampai meninggalnya pencari nafkah bukan sesuatu yang ingin dialami siapa pun. Masalahnya, kejadian seperti itu juga tidak selalu memberi waktu kepada kita untuk menyiapkan uang terlebih dahulu.
Lebih menarik kalau BPJS dilihat sebagai salah satu lapisan perlindungan ketika pengeluaran besar atau kehilangan penghasilan datang tanpa banyak peringatan.
BPJS Bukan Cuma Soal Kartu Berobat
Coba bayangkan sebuah keluarga dengan kondisi keuangan yang sebenarnya cukup normal. Penghasilan masuk setiap bulan, tagihan masih terbayar, kebutuhan sekolah anak aman, dan masih ada sedikit uang yang bisa ditabung.
Lalu salah satu anggota keluarga harus menjalani perawatan medis yang tidak murah.
Masalahnya bukan hanya biaya rumah sakit. Bisa ada ongkos perjalanan, makan selama menjaga pasien, kebutuhan anak di rumah, sampai penghasilan yang berkurang karena harus meninggalkan pekerjaan sementara.
Di titik seperti inilah jaminan sosial mulai terasa nilainya. Bukan berarti semua masalah otomatis selesai, tetapi setidaknya ada sebagian risiko besar yang tidak harus ditanggung sendirian.
JKN Sekarang Sudah Sangat Besar
Jaminan Kesehatan Nasional sekarang skalanya sudah sangat besar. Berdasarkan data terbaru BPJS Kesehatan, jumlah peserta JKN sudah mencapai sekitar 284 juta orang.
Ketika jumlah pesertanya sudah sebesar itu, tantangannya tentu ikut berubah. Bukan cuma bagaimana membuat masyarakat terdaftar, tetapi juga bagaimana peserta mendapat pelayanan yang mudah, cepat, dan semakin setara.
KRIS Mengubah Cara Kita Melihat Rawat Inap
Salah satu hal yang menarik untuk diperhatikan adalah Kelas Rawat Inap Standar atau KRIS. Namanya memang terdengar seperti istilah administrasi, padahal idenya cukup mudah dipahami.
Peserta JKN yang membutuhkan rawat inap diarahkan mendapatkan standar minimum ruang dan pelayanan yang lebih setara.
KRIS membahas standar kondisi ruang rawat inap, termasuk ventilasi, pencahayaan, jarak tempat tidur, kamar mandi, nurse call, suhu ruangan, sampai fasilitas oksigen.
Dalam standar KRIS, satu ruangan antara lain dibatasi maksimal empat tempat tidur. Jarak antartempat tidur juga diatur, begitu pula akses kamar mandi, ventilasi, pencahayaan dan sejumlah fasilitas dasar lainnya.
Jadi pembicaraan tentang BPJS perlahan tidak hanya berkutat pada pertanyaan, “Saya dapat kelas berapa?” tetapi bisa bergeser menjadi, “Standar pelayanan dasar seperti apa yang seharusnya saya dapat?”
Tidak Pernah Berobat Bukan Berarti Iurannya Sia-sia
Ada juga anggapan yang mungkin pernah kita dengar, “Saya sudah lama bayar BPJS tapi hampir tidak pernah dipakai. Berarti rugi dong?”
Jaminan kesehatan bukan tabungan pribadi. Kita tidak membayar sejumlah uang lalu berharap jumlah yang sama kembali kepada kita. Konsepnya lebih dekat dengan gotong royong menghadapi risiko.
Ada peserta yang hampir tidak membutuhkan pelayanan kesehatan. Pada saat bersamaan ada peserta lain yang harus menjalani operasi, terapi, rawat inap panjang, atau pengobatan penyakit kronis.
Dan tentu saja tidak ada yang tahu kapan posisi tersebut bisa bertukar.
Kalau yang Hilang Justru Penghasilannya?
Persoalannya sedikit berbeda ketika masalah yang datang bukan hanya sakit, tetapi pekerjaan.
Seorang pekerja bisa mengalami kecelakaan kerja, terkena PHK, kehilangan kemampuan bekerja, memasuki masa pensiun, atau meninggal dunia. Dalam kondisi seperti itu keluarga bukan hanya menghadapi pengeluaran baru, tetapi juga kemungkinan kehilangan sumber pendapatan.
Manfaat jaminan sosial ketenagakerjaan yang disalurkan dalam laporan terakhir.
Jumlah klaim yang tercatat mendapatkan pembayaran manfaat.
Pekerja tercatat menerima manfaat Jaminan Kehilangan Pekerjaan.
Angka sebesar itu memperlihatkan sisi BPJS yang sering tidak terlihat ketika kita hanya membicarakan iuran. Saat keadaan normal, perlindungan sosial memang seperti bekerja di belakang layar. Begitu masalah muncul, fungsinya baru benar-benar terasa.
Freelancer dan Pekerja Informal Juga Perlu Memikirkan Perlindungan
Dunia kerja sekarang juga tidak sesederhana dulu. Tidak semua orang bekerja sebagai pegawai tetap di sebuah perusahaan.
Ada pedagang, pengemudi, freelancer, kreator konten, teknisi, pekerja proyek, pemilik usaha kecil, sampai orang yang memperoleh pemasukan dari beberapa pekerjaan sekaligus.
Pekerja mandiri tetap bisa mengalami kecelakaan, sakit, kehilangan kemampuan bekerja, atau menghadapi kondisi lain yang mengganggu pemasukan.
Data BPJS Ketenagakerjaan menunjukkan peserta aktif kategori Bukan Penerima Upah atau BPU sudah mencapai sekitar 14,2 juta orang. Jumlah ini menggambarkan bahwa perlindungan ketenagakerjaan tidak hanya relevan bagi pegawai kantoran.
Buat pekerja mandiri, justru tidak ada HRD yang setiap saat mengingatkan soal administrasi perlindungan. Karena itu urusan seperti ini perlu lebih aktif diperhatikan sendiri.
Sekarang Banyak Urusan BPJS Bisa Dilakukan dari Ponsel
Dulu kartu fisik terasa seperti benda paling penting ketika berbicara mengenai BPJS. Sekarang kondisinya mulai berbeda karena semakin banyak layanan yang beralih ke kanal digital.
Berdasarkan laporan terbaru BPJS Ketenagakerjaan, aplikasi Jamsostek Mobile atau JMO telah digunakan sekitar 33,68 juta pengguna. Sebagian besar pengajuan klaim Jaminan Hari Tua juga sudah dilakukan melalui kanal tersebut.
Digitalisasi tentu membuat banyak hal lebih praktis. Tetapi ada konsekuensi sederhana yang sering terlupakan: data kita harus benar.
Punya BPJS Bukan Berarti Dana Darurat Tidak Perlu
Nah, ini bagian yang cukup sering terlewat.
BPJS memang dapat menjadi perlindungan penting, tetapi bukan berarti kita bisa berhenti menyiapkan dana darurat.
Membantu menghadapi sejumlah risiko sesuai program dan ketentuan yang berlaku.
Menutup kebutuhan lain yang tidak termasuk dalam manfaat jaminan sosial.
Menjaga kebutuhan dan rencana keuangan keluarga tetap berjalan.
Ketika anggota keluarga dirawat misalnya, mungkin masih ada biaya perjalanan, makan, kebutuhan pendamping pasien, atau pemasukan yang berkurang karena harus izin bekerja.
Jadi bukan soal memilih BPJS atau dana darurat. Keduanya justru lebih masuk akal jika berjalan bersama.
Sesekali Coba Audit BPJS Keluarga Sendiri
Kita sering mengecek saldo rekening, paket internet, tagihan listrik, bahkan masa aktif berbagai layanan digital. Tapi berapa kali kita mengecek data BPJS seluruh anggota keluarga?
Cek apakah kepesertaan seluruh keluarga masih aktif.
Pastikan data identitas tidak bermasalah.
Periksa fasilitas kesehatan yang terdaftar.
Cek kembali nomor telepon dan email.
Untuk pekerja, periksa data kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan.
Pastikan keluarga tahu cara mengakses layanan ketika dibutuhkan.
Nilainya Biasanya Baru Terasa Ketika Benar-benar Dibutuhkan
Mungkin inilah bagian unik dari jaminan sosial. Ketika semuanya baik-baik saja, kita hampir tidak memikirkannya.
Tidak ada orang yang berharap mengalami kecelakaan kerja hanya supaya bisa menggunakan manfaatnya. Tidak ada yang ingin terkena PHK supaya dapat menggunakan JKP. Dan tentu tidak ada keluarga yang berharap salah satu anggotanya harus menjalani perawatan serius hanya supaya merasa iuran kesehatan yang dibayarkan selama ini akhirnya “balik modal”.
Tapi kita biasanya baru sadar pentingnya membawa payung ketika hujan sudah turun. Kurang lebih seperti itulah cara sederhana melihat jaminan sosial.
Jadi mungkin sudah waktunya melihat BPJS bukan hanya sebagai kartu, potongan gaji, atau tagihan bulanan. Bagi keluarga, BPJS lebih cocok dilihat sebagai salah satu bagian dari sistem pertahanan keuangan. Memang tidak menyelesaikan seluruh risiko hidup, tetapi dapat membantu agar satu kejadian buruk tidak langsung menyeret kondisi ekonomi keluarga ikut jatuh.
Posting Komentar